Kapitalis Pendidikan: Memiliki Hukum

By artikel

Kapitalis Pendidikan: Memiliki Hukum

Pergeseran tujuan pendidikan yang diprakarsai oleh para pendiri Republik Indonesia benar-benar mengintip dari perhatian subordo. Jika pendidikan hanya dilakukan hanya untuk pria yang punya uang, maka lapisan terbesar masyarakat Indonesia? Orang tidak akan memiliki pendidikan formal. Orang miskin dan orang, yang tidak memiliki daya beli, akan menghasilkan generasi apatis. Dengan demikian, akan hilang pula satu peradaban yang menghubungkan suatu bangsa.

Degree Training for an Education Teaching Career Kapitalis Pendidikan: Memiliki Hukum

Pendidikan yang dilakukan dengan hanya menitikberatkan pada saat ini keuntungan finansial hanya akan membuat manusia lebih individual dan sesekali mengesampingkan bahwa pria pada dasarnya dibuat otonom. Ketergantungan dan ketergantungan untuk mendapatkannya (pengembalian modal akan membuat produk pendidikan memungkinkan segala cara, machiavelistical.

Sisi lain, sistem pendidikan kali ini membuat manusia lepas dari itu (daerah dan terkadang diabstraksikan dari akar masyarakatnya. Sangat penting bahwa sistem pendidikan saat ini membuat peserta edukatif tidak otonom dan terkadang melupakan semangat sebagai makhluk sosial atau menurut pendapat. Aristoteles itulah pria Zoon Politicon.

Semestinyalah seandainya pendidikan yang ditujukan untuk pencapaian standar kapal copartner (perusahaan) harus ditolak. Idealnya, pendidikan harus memuat agenda untuk “humanising man” (humanisasi), non dehumanisasi. Dengan mengumpulkan biaya tinggi karena hukum barium; Dengan sendirinya pendidikan telah dialihkan ke pemenuhan kebutuhan industri. Lebih dari apapun di Indonesia, diploma adalah referensi yang bagus dan satu-satunya alat untuk mendapatkan pekerjaan yang kompeten.

Dengan memposisikan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dan juga hukum barium sektor swasta harus, publik terjebak dalam dilema akut. Di satu sisi publik membutuhkan pendidikan untuk meningkatkan realitas kemanusiaannya, sedang di sisi lain tidak ada biaya monster kecil atau mimpi buruk tanpa akhir. Antara ketakutan dan keinginan masyarakat untuk mengirim ke sekolah itu adalah anak-anak yang dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu. Kondisi ini merupakan kondisi nyata jika dievaluasi dari segi aspek bisnis. Pembeli panik yang benar-benar kondisinya tidak menguntungkan bagi pelakunya adalah pelaku usaha. Pikiran: Pendidikan adalah Faktor SacralIndonesia sampai sekarang masih berpendapat bahwa pendidikan formal adalah peralatan yang hanya untuk memperbaiki; Memperbaiki kehidupan, mendapatkan pekerjaan dengan produksi bagus, gaji yang baik, dan untuk memenuhi kebutuhan primer, disamping bisa menaikkan derajat.

Asumsi ini dari generasi ke generasi dan selalu terpelihara sehingga mengintip keluar asumsi dan menempatkan pendidikan formal sebagai hal yang sakral. Meski semua pendidikan formal, sekolah kejuruan bukanlah sarana yang menarik. Karena itu, sekolah kejuruan mengajar itu tidak menarik. Sekolah kejuruan adalah sekolah untuk anggota masyarakat marjinal. Sekolah kejuruan mengajar bagaimana menghadapi dan menyusun kehidupan diasumsikan bukan elite dan kuno. Di samping itu, sekolah kejuruan bukan tempat untuk Anak laki-laki kaya, tapi dikhususkan untuk anak-anak dari keluarga miskin. Kekosongan sosial karena racun berdampak pada sekolah yang hanya dinikmati oleh anak laki-laki kaya akan mengintip perasaan tertindas dan tidak nyaman di antara orang-orang miskin.

Masyarakat miskin yang tidak dapat mengirim ke sekolah itu ( Anak-anak akan menganggapnya sebagai takdir yang harus diterima dan menganggapnya sebagai hukuman Tuhan. Ironis tentu saja, tapi ini kenyataan ketika sekolah menjadi mahal dan orang miskin tidak lagi sekolah di sekolah. Menteri Pendidikan Nasional Di Indonesia untuk saat ini kemungkinan kian jauh dari visi kebangsaan. Bahkan dengan gerakan otonomi sekolah semakin jelas menunjukkan gejala kapitalisasi pendidikan. Kini edukasi N dikelola dengan menggunakan manajemen bisnis yang kemudian menghasilkan biaya adalah langit. Biaya pendidikan semakin mahal, bahkan terkesan telah menjadi komoditas bisnis bagi pemilik modal (kapitalis). Dengan menggunakan label sekolah unggulan, sekolah favorit, biaya sekolah sebaya, dan sebagainya, pendidikan semakin mencekik orang miskin.

Pendidikan kita kian grinds klan marjinal. Dimana situasi keadilan pendidikan kita jika sekolah bersertifikasi itu hanya karena mereka hanya memiliki uang? Sedangkan sebagai orang yang yakin normal masyarakat akan memilih kehidupan terbaik. Namun, karena kecacatan dan kepicikannya dalam melihat masalah pendidikan, objektivitasnya juga lenyap. Masyarakat Indonesia tentu membutuhkan resusitasi bahwa pendidikan merupakan salah satu bagian penting untuk memperbaiki kualitas dari itu (kemanusiaan. Tentu saja, tidak ada jaminan bahwa pendidikan akan membuat orang menjadi kaya, berpengaruh, terkenal, dan memegang kendali. Kesimpulan? Panjang bulan masih perlu diupayakan sebelum masyarakat Indonesia dapat melihat ke dalam pendidikan formal karena bukan satu-satunya peralatan yang bisa diperbaiki; Memperbaiki nyawa masyarakat harus merealisasikan pendidikan formal bukan sebagai nya (nada ).Resuscitation perlu dilatih untuk pebisnis. Sekolah yang sampai sekarang dipandang sebagai satu-satunya peralatan yang bisa digunakan untuk meraih dan bisa mewujudkannya.

Keinginannya bukan pertanian untuk mendapatkan keuntungan, oleh karena itu tidak sekolah yang benar dimanfaatkan sebagai sarana mencari nafkah. Di sekolah tetap dan harus tergelincir diantara idealisme, sehingga tidak ada alasan lagi untuk mahal. Pendidikan yang berkualitas, fasilitas pendukung yang lengkap, dan memiliki berbagai fasilitas. Alternatif lain adalah mempublikasikan secara intensif agar ijazah tidak dibutuhkan tapi etos dan kerja keras, memotivasi untuk membangun diri sendiri, dan keinginan untuk hidup di depan yang lebih baik harus ditanamkan lebih awal. . Publik harus terbangun sehingga menjadi pegawai negeri bukanlah harga kematian.